Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur - Smart Province Green Province
Selamat Datang di Halaman Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur - Smart Province Green Province

Kualitas Air

Sumber air minum untuk keperluan rumah tangga di Jawa Timur berasal dari ledeng, sumur, sungai, hujan, kemasan dan lainnya. Jumlah rumah tangga yang ada di Jawa Timur yang menggunakan sumber air minum jenis ledeng berjumlah 1.883.797 rumah tangga (21%), yang menggunakan sumur sebanyak 2.305.159 rumah tangga (25%), yang bersumber dari air sungai sebanyak 179.975 rumah tangga (2%), yang mengambil dari air hujan sebanyak 52.553 rumah tangga (1%), dari air kemasan sebanyak 82.198 rumah tangga (1%), dan yang menggunakan sumber air minum lainnya sebanyak 4.574.328 rumah tangga (50%).

Jumlah Kebutuhan Sumber Air Minum di Jawa Timur yang menggunakan jenis ledeng paling banyak adalah jumlah rumah tangga yang ada di Kab. Malang, Kab. Pasuruan, kab. Lamongan, Kota Malang, Kota Surabaya sedangkan yang menggunakan sumber air minum jenis sumur paling banyak adalah jumlah rumah tangga yang ada di Kab. Jombang, Mojokerto, Kab. Pasuruan. Jumlah rumah tangga di Kabupaten Sidoarjo masih banyak yang menggunakan sumber air bersih jenis lainnya.

Jawa Timur mempunyai posisi yang strategis di bidang Industri karena diapit oleh dua provinsi besar yaitu Jawa Tengah dan Bali, sehingga menjadi pusat pertumbuhan industri maupun perdagangan. Jawa Timur mempunyai penduduk berjumlah 39.075.152 jiwa dan luas wilayah seluas 47.799,75 km², terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota. Jawa Timur mempunyai potensi di bidang Pertanian, Perkebunan, Niaga, Holtikultura, Perikanan dan Sumberdaya Energi lainnya serta potensi industri yang cukup bagus.

Peningkatan jumlah industri berbanding lurus dengan meningkatnya potensi pencemaran terhadap lingkungan bila limbah yang dihasilkan baik itu limbah cair, limbah padat maupun gas tidak dikelola dengan  baik.

Limbah cair yang dihasilkan industri apabila tidak dikelola secara tepat maka akan menimbulkan berbagai dampak lingkungan seperti diantaranya kematian ikan, keracunan pada manusia dan ternak, kematian plankton, akumulasi dalam daging ikan dan moluska, terutama apabila limbah cair tersebut mengandung logam seperti As, CN, Cr, Cd, Cu, F, Hg, Pb atau Zn.

Tingkat beban pencemaran dari industri/keg. Usaha dihitung menggunakan metode kalkulasi dasar berupa pengkalian konsentrasi limbah terukur setiap bulan/periode pemantauan dengan besaran debit volumetrik dari limbah, baik yang cair maupun berupa gas/udara. Sementara untuk tingkat beban pencemaran limbah B3 dihitung berdasarkan kinerja pengelolaan limbah B3 yang dilakukan perusahaan, mulai dari kegiatan identifikasi inventarisasi, penyimpanan sementara, penyerahan kepada pihak ketiga, pemanfaatan, pengolahan, injeksi, bioremediasi, solidifikasi, ataupun penimbunan.

Dari 813.140 unit usaha/industri di Jawa Timur ada 218 industri yang memberikan manifest sebagai industri penghasil limbah B3 dengan potensi limbah sebesar 49 jt ton/tahun ditambah Limbah B3 dari 215 rumah sakit (limbah medis) yang terus meningkat sebesar + 1.9 Jt ton/tahun. Potensi limbah B3 di Jawa Timur secara keseluruhan adalah sekitar 170 jt ton/tahun, sedang sisanya juga berpotensi besar telah menimbulkan lahan terkontaminasi oleh limbah B3 nya. Sehingga mau dibawa kemana limbah berbahaya tersebut kalo tidak tertangani dengan baik maka Jawa Timur benar-benar menjadi darurat limbah B3. Banyak industri yang tidak menyadari, bahwa limbah yang dihasilkan termasuk dalam kategori limbah B3, sehingga dengan mudah limbah dibuang ke sistem perairan tanpa adanya pengolahan. Walaupun volumenya kecil, konsentrasi zat pencemar yang telah dipisahkan itu sangat tinggi. Selama ini, zat pencemar yang sudah dipisahkan (konsentrat) belum tertangani dengan baik, sehingga terjadi akumulasi bahaya yang setiap saat mengancam kesehatan dan keselamatan lingkungan hidup. Untuk itu  limbah B3 apapun bentuknya perlu dikelola dan diawasi secara serius dan berkelanjutan.

Dari grafik tersebut diketahui bahwa Kota Surabaya selaku Kota terbesar di Provinsi Jawa Timur merupakan penyumbang terbesar potensi air limbah domestik yaitu sebesar 341.830 m³/hari. Sedangkan Kota Mojokerto memiliki potensi air limbah domestik terendah yaitu sebesar 15.085 m³/hari.

Dampak limbah organik ini umumnya disebabkan oleh dua jenis limbah cair yaitu deterjen dan tinja. Deterjen sangat berbahaya bagi lingkungan karena dari beberapa kajian menyebutkan bahwa detergen memiliki kemampuan untuk melarutkan bahan bersifat karsinogen, misalnya 3,4 Benzonpyrene, selain gangguan terhadap masalah kesehatan, kandungan detergen dalam air minum akan menimbulkan bau dan rasa tidak enak. Sedangkan tinja merupakan jenis vektor pembawa berbagai macam penyakit bagi manusia.

Kualitas air yang digunakan masyarakat saat ini masih berada dalam taraf mengkhawatirkan. Seringkali masyarakat tidak menyadari, air yang mereka konsumsi dapat tercemar baik oleh bakteri maupun limbah yang mengandung B3 (bahan berbahaya dan beracun) seperti timbal. Air yang tidak aman, kebersihan yang tak layak dan kekurangan kesehatan sangat mempengaruhi tingkat kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup penduduk di suatu wilayah.

Indeks kualitas air di Jawa Timur sebesar 52,51 pada tahun 2015 menjadi 50,75 pada tahun 2016 atau berada pada status “Sangat Kurang”.  Sedangkan Indeks kualitas air di wilayah sungai strategis nasional yaitu Wilayah Sungai brantas pada tahun 2016 sebesar 47,68 turun dari tahun sebelumnya sebesar 49,17. Sedangan kualitas di wilayah sungai Bengawan Solo sebesar 48,75. Kedua sungai strategis nasional ini berada dalam kondisi “ Waspada”.

Kondisi eksisting kualitas air sungai di Jawa Timur menunjukan konsentrasi BOD sebesar 87,4%, Total Coli sebesar 49%, Coli tinja 55,98%, COD sebesar 7,2%, TSS sebesar 65% di lokasi pantau cenderung jauh melebihi baku mutu kualitas air sungai kelas II berdasarkan hasil pemantauan kualitas air terpadu yang dilakukan oleh BLH Provinsi Jawa Timur, Perum Jasa Tirta, Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur maupun BLH Kabupaten/Kota.

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur telah memfokuskan diri pada upaya untuk mengendalikan pencemaran air dari sektor industri dan kegiatan usaha lain. Berbagai upaya dari hulu hingga hilir melalui program pembinaan, pengawasan, susur sungai, patroli air, sidak, penilaian program peringkat kinerja lingkungan industri (PROPER) dan penegakan hukum. Upaya ini telah berhasil meningkatkan ketaatan pihak industri untuk memenuhi baku mutu air limbah di Jawa Timur. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Polda Jatim dalam melakukan upaya penegakan hukum terhadap industri yang melanggar peraturan perundangan lingkungan hidup, diantaranya mengadakan rapat koordinasi untuk membahas proses Penegakan Hukum terhadap industri yang melakukan pencemaran lingkungan di Jawa Timur.

 

Tags :

  • Copyright © 2018 Humas Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur